Gerakan Pungut Sampah IMI Sumbar Usai Salat Idul Fitri 2026

Admin/ Maret 1, 2026/ Berita

Perayaan hari raya Idul Fitri di Sumatera Barat selalu identik dengan kerumunan massa yang berkumpul di lapangan terbuka atau masjid raya untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah. Namun, seringkali kemeriahan tersebut menyisakan persoalan klasik berupa tumpukan alas koran, plastik sisa makanan, hingga botol minuman yang berserakan di lokasi pelaksanaan ibadah. Menyadari hal tersebut, sebuah inisiatif sosial bertajuk Gerakan Pungut Sampah kebersihan massal diluncurkan untuk menjaga kesucian tempat ibadah sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya tanggung jawab pasca-kegiatan. Langkah ini merupakan perwujudan dari filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” yang menjunjung tinggi kebersihan sebagai bagian dari iman.

Aksi nyata untuk melakukan pungut sampah ini dilakukan segera setelah rangkaian khotbah dan bersalam-salaman selesai dilakukan. Para relawan yang terdiri dari anggota komunitas otomotif dan pemuda setempat bergerak dengan sigap menyisir setiap sudut lapangan. Fokus utamanya adalah memastikan tidak ada sisa-sisa material yang tertinggal dan mengotori fasilitas umum. Dengan membawa kantong sampah berukuran besar, tim dari IMI Sumbar memberikan contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus tetap dijunjung tinggi, bahkan di saat semua orang sedang dalam suasana merayakan kegembiraan. Hal ini menunjukkan bahwa dedikasi terhadap kebersihan kota tidak mengenal waktu libur atau momen istimewa.

Kegiatan ini secara rutin dilakukan oleh para relawan otomotif yang biasanya dikenal dengan kegemaran mereka mengeksplorasi jalanan Sumatera Barat. Namun, di hari yang suci ini, mereka memilih untuk mengalihkan energi mereka menjadi aksi nyata di tengah masyarakat. Partisipasi aktif dari para penggiat komunitas ini memberikan pesan kuat bahwa hobi otomotif bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan tentang bagaimana memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Kehadiran mereka di lokasi-lokasi utama seperti Lapangan Imam Bonjol atau Masjid Raya Sumatera Barat memberikan warna baru dalam tradisi lebaran yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan bagi seluruh warga Minang.

Pelaksanaan aksi kebersihan ini dilakukan tepat usai salat Id, di mana volume sampah biasanya mencapai puncaknya. Jika tidak segera ditangani, sampah-sampah tersebut dapat terbawa angin dan masuk ke saluran air, yang pada akhirnya memicu penyumbatan dan masalah sanitasi kota. Dengan tindakan yang cepat dan terorganisir, estetika kota tetap terjaga sehingga para perantau yang pulang kampung dapat menikmati keindahan ranah Minang tanpa terganggu oleh pemandangan yang tidak sedap. Edukasi langsung di lapangan ini juga diharapkan mampu mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih sadar untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, tanpa harus menunggu petugas kebersihan datang.

Share this Post